ACEH TIMUR – bersuarakyat.online
Potret kemiskinan di Desa Buket Bata, Kecamatan Pante Bidari, kembali menampar nurani publik. Hasil investigasi tim Satgasus Badan Advokasi Indonesia menemukan puluhan rumah tidak layak huni yang telah diajukan setiap tahun selama tiga tahun berturut-turut ke Pemerintah Aceh untuk direalisasikan, namun tidak satu pun yang mendapat bantuan.

Ironisnya, satu-satunya rumah yang pernah disentuh bantuan justru bukan dari pemerintah—melainkan dari inisiatif Kapolres Aceh Timur, yang membangun rumah untuk Nilawati menggunakan dana keanggotaan internal Polres. Selebihnya, puluhan rumah warga miskin tetap dibiarkan berdiri layaknya istana bambu yang hampir roboh.
“Kami melihat bukan satu atau dua, tetapi puluhan rumah masyarakat yang sangat tidak layak huni. Semua data itu pernah diajukan oleh Kades sebelumnya, Zakaria. Namun hingga kini tak ada tindak lanjut dari pemerintah,” tegas Darwati, warga miskin yang hidup di garis kemiskinan dan suaminya tidak memiliki pekerjaan tetap.
Sudah tujuh tahun Darwati dan suaminya, Ilyas, menunggu perhatian Pemerintah Aceh dan pemerintah pusat. Namun harapan itu seolah tak pernah dianggap.
“Kami sudah berusaha. Tapi mungkin Allah belum berkehendak,” lirih Ilyas, yang tinggal bersama tiga anaknya di sebuah gubuk reot yang hampir tak layak disebut rumah.
Muhammad Isa, warga lainnya, hanya berharap agar keluarganya bisa mendapat rumah rehab agar atap tak lagi bocor setiap hujan turun.
“Kasihan anak-anak saya. Kalau hujan, atap bocor, buku sekolah basah, baju basah. Mereka sampai tak bisa sekolah,” ucapnya sambil menahan tangis.
Investigasi tim Satgasus menemukan kenyataan pahit: banyak rumah warga miskin di desa tersebut benar-benar terabaikan, seolah tak pernah menjadi prioritas pemerintah.
Masyarakat mendesak Pemerintah Aceh dan Pemerintah Kabupaten Aceh Timur untuk turun langsung ke lapangan, melihat bagaimana rakyat di pedesaan hidup di bawah atap bambu, menampung hujan dengan ember, memasak di atas tanah, dan menunggu bantuan yang tak kunjung datang.
Di tengah gencarnya program pengentasan kemiskinan, warga Buket Bata mempertanyakan:
Di mana perhatian pemerintah selama ini? Mengapa rakyat yang paling membutuhkan justru tidak tersentuh bantuan sama sekali?
Masyarakat berharap pemerintah tidak lagi hanya menerima proposal, tetapi bertindak nyata, karena kehidupan mereka bukan sekadar angka dalam laporan—melainkan manusia yang setiap hari berjuang untuk bertahan hidup.
Hsb