JAKARTA, Bersuarakyat.online – Pengacara Kamaruddin Simanjuntak telah mempersiapkan prosesi pemakamannya sendiri sebelum meninggal dunia. Ia berkeinginan dimakamkan di kampung halamannya di Siborongborong, Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara.
Hal tersebut diungkapkan sang istri, Joanita Meroline Wenji, saat ditemui di Rumah Duka Ukrida, Tanjung Duren, Jakarta Barat, Senin (19/10/2026).
Joanita mengatakan, jenazah Kamaruddin akan disemayamkan di Rumah Duka Ukrida hingga Rabu (21/10/2026). Setelah itu, jenazah akan diberangkatkan ke Siborongborong pada Rabu malam untuk dimakamkan keesokan harinya.
“Rencana di sini disemayamkan sampai hari Rabu, baru kita Rabu malam berangkat ke Siborongborong, karena dia sudah mempersiapkan semuanya,” kata Joanita.
Ia memastikan pemakaman Kamaruddin akan dilaksanakan pada Kamis di kampung halaman almarhum.
“Jadi pemakamannya Kamis, Kamis pemakaman. Dibawa ke Siborongborong,” ujarnya.
Joanita menuturkan, suaminya meninggal dunia di Rumah Sakit Pelni pada Senin dini hari akibat komplikasi penyakit yang dideritanya.
Menurut Joanita, Kamaruddin telah menjalani prosedur cuci darah secara rutin selama sekitar dua tahun terakhir. Meski kondisi kesehatannya menurun, almarhum tetap berusaha menjalankan pekerjaannya sebagai pengacara.
“Untuk sebelumnya memang sudah dua tahun mulai cuci darah. Karena terlalu lelah, hampir enggak istirahat dia. Kalau bela klien itu benar-benar hari Minggu pun dia kerja,” tutur Joanita.
Ia mengungkapkan, kondisi kesehatan suaminya mulai sering memburuk sejak Februari 2026. Saat itu, Kamaruddin beberapa kali harus menjalani perawatan di rumah sakit.
“Mulai dari Februari itu sudah bolak-balik rumah sakit. Cuma memang saya enggak sebarkan, karena kalau dia sudah segar, barulah diinformasikan,” katanya.
Di tengah kondisi suaminya yang semakin melemah, Joanita mengaku terus berdoa agar Kamaruddin diberi kesempatan untuk melewati sejumlah momen penting bersama keluarga.
Ia mengenang, pada Februari lalu, Kamaruddin pernah pulang dari kampus dengan menggunakan kursi roda. Melihat kondisi suaminya, Joanita berharap bisa merayakan hari jadi pernikahan mereka pada 18 Maret bersama-sama.
“Waktu Februari itu dia pulang dari kampus, masuk pakai kursi roda. Saya cuma berdoa, ‘Tuhan, karena dia sudah lemah banget, saya minta satu bulan sampai anniversary kami tanggal 18 Maret.’ Dikasih sama Tuhan lewat,” kenangnya.
Joanita juga terus memanjatkan doa agar suaminya diberikan kesembuhan hingga perayaan Paskah pada April dan ulang tahun Kamaruddin pada 21 Mei.
Ia mengatakan, kondisi Kamaruddin sempat membaik selama beberapa bulan. Pada Mei hingga Juli, almarhum tidak kembali menjalani perawatan di rumah sakit.
Namun, kondisi kesehatannya kembali menurun sejak akhir Juli. Kamaruddin kembali masuk rumah sakit pada Agustus, bertepatan dengan bulan ulang tahun Joanita.
“Saya berdoa lagi minta hadiah ulang tahun saya di bulan Agustus dia sembuh. Ternyata tanggal 25 masuk rumah sakit, jadi saya ulang tahun di rumah sakit,” ujar Joanita.
Kepergian Kamaruddin meninggalkan duka bagi keluarga. Sebelum meninggal dunia, ia diketahui tetap berupaya menjalankan profesinya sebagai pengacara di tengah perjuangannya menghadapi penyakit yang diderita. (#slh)