Bersuarakyat.online
Labuhanbatu- Dengan segala keterbatasan, sang ayah memberanikan diri mengambil rumah subsidi melalui sistem angsuran. Baginya, rumah itu bukan sekadar bangunan, melainkan harapan dan warisan yang kelak dapat ditinggalkan untuk keluarganya. Ia ingin memastikan bahwa jika suatu hari dirinya tidak lagi ada, istri dan anak-anaknya tetap memiliki tempat berteduh dan tidak terlantar.
Namun, keputusan tersebut bukan tanpa risiko. Masa angsuran yang harus dijalani mencapai puluhan tahun. Selama itu pula ia menggantungkan harapan pada pekerjaannya, berharap tenaganya masih dibutuhkan perusahaan sebagai jurnalis, sehingga ia tetap memiliki penghasilan untuk membayar cicilan rumah.
Di balik harapan itu, tersimpan kecemasan yang terus menghantuinya. Ia sadar bahwa tidak ada yang dapat menjamin dirinya akan selalu sehat, kuat, dan produktif. Jika suatu saat ia kehilangan pekerjaan atau tidak lagi mampu bekerja, maka cicilan rumah yang selama ini diperjuangkan bisa berubah menjadi beban berat yang sulit diselesaikan.
Dalam kegelisahan itulah muncul sebuah pemikiran yang tidak biasa, bahkan di luar nalar kebanyakan orang. Sang ayah membayangkan dirinya “mati” dalam data dan administrasi, meskipun sebenarnya masih hidup. Dengan cara itu, ia berharap dapat membebaskan keluarganya dari tanggung jawab beban angsuran yang mengikat selama bertahun-tahun yang tidak kenal lelah serta panas dan hujan.
Ia memilih hidup dalam bayang-bayang identitas yang dianggap telah tiada. Sebuah pengorbanan yang penuh risiko, karena untuk sementara waktu ia harus terpisah dari kehidupan yang selama ini dikenalnya. Namun dalam pikirannya, langkah itu adalah cara untuk membeli waktu bagi istri dan anak-anaknya agar dapat bertahan, tumbuh, dan melanjutkan perjuangan hidup tanpa dibebani cicilan yang memberatkan.
Mungkin bagi banyak orang, keputusan itu terdengar mustahil atau tidak masuk akal. Namun bagi seorang ayah yang setiap hari memikirkan masa depan keluarganya, terkadang lahir akal-akal yang melampaui logika. Bukan karena ingin lari dari tanggung jawab, melainkan karena begitu besarnya keinginan untuk melindungi orang-orang yang dicintainya dari kerasnya beban kehidupan.
Di balik segala keterbatasan, ketakutan, dan risiko yang dihadapinya, tersimpan satu hal yang tidak pernah mati: kasih sayang seorang ayah yang rela mengorbankan dirinya demi memberikan kesempatan hidup yang lebih baik bagi istri dan anak-anaknya.
Penulis :
*** ( DR.Rangkuti )***