Di Tengah Polemik Dugaan Pencurian Lembu, Dandim Pastikan TNI Tidak Terlibat
LABUHANBATU – Komandan Kodim (Dandim) 0209/Labuhanbatu, Letkol Kav Hanung Kaptiaji, S.Sos., M.I.P., menegaskan hingga kini belum ditemukan indikasi keterlibatan anggota TNI dalam polemik dugaan pencurian lembu yang terjadi di areal perkebunan Sei Siarti, Kecamatan Panai Tengah, Kabupaten Labuhanbatu, pada 25 Juni 2026. Pernyataan itu disampaikan Hanung dalam kegiatan coffee morning bersama wartawan di Makodim 0209/Labuhanbatu, Minggu (28/6). Ia meminta seluruh pihak menahan diri dan tidak menggiring opini sebelum proses hukum selesai. “Saya berada di posisi netral. Saya tidak berpihak kepada siapa pun, baik kepada saudara J maupun MS. Biarkan persoalan ini diproses sesuai mekanisme hukum yang berlaku,” kata Hanung. Menurut Hanung, persoalan yang berkembang saat ini pada dasarnya merupakan sengketa antara dua pihak yang berkaitan dengan kepemilikan lembu dan lahan. Karena itu, ia menilai persoalan tersebut tidak semestinya berkembang menjadi isu yang menyeret institusi TNI. “Saya sudah mendengar penjelasan dari kedua belah pihak. Kesimpulan sementara yang saya peroleh, ini adalah konflik antara dua pihak terkait persoalan sapi dan lahan. Jangan sampai persoalan ini berkembang menjadi konflik yang menyeret institusi,” ujarnya. Hanung menegaskan, hasil pemeriksaan internal sementara tidak menemukan keterlibatan personel TNI dalam dugaan pengambilan maupun penggiringan lembu. Menurut dia, kehadiran personel di lokasi saat kejadian semata-mata untuk mengantisipasi potensi benturan antarkelompok masyarakat. “Sampai saat ini tidak ada anggota TNI yang terlibat dalam pengambilan lembu tersebut. Personel yang berada di lokasi bertugas melakukan pengamanan agar tidak terjadi konflik,” katanya. Terkait keberadaan personel di kawasan perkebunan, Hanung membenarkan adanya anggota TNI yang menjalankan tugas pengamanan berdasarkan kerja sama di sektor perkebunan. Namun, pihaknya masih menelusuri dasar penugasan tersebut. “Kami juga sedang mengecek apakah penugasan itu berdasarkan permintaan pihak tertentu dan bagaimana dasar penugasannya,” ujarnya. Hanung juga membantah informasi yang beredar di media sosial yang menyebut sekitar satu kompi atau 120 personel TNI terlibat dalam peristiwa tersebut. “Informasi itu tidak benar. Kami tegaskan kabar tersebut merupakan hoaks,” tegasnya. Ia mengaku menerima banyak pesan melalui aplikasi WhatsApp yang berisi tudingan terhadap institusi TNI. Karena itu, masyarakat diminta tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi dan menyerahkan penanganan perkara kepada aparat penegak hukum. Sementara itu, Jefrey melalui video klarifikasi yang beredar di media sosial juga membantah tudingan adanya keterlibatan oknum TNI dalam dugaan pencurian lembu. Didampingi kuasa hukumnya, ia mengaku telah melaporkan sejumlah akun media sosial yang diduga menyebarkan informasi bohong ke Polda Sumatera Utara. “Saya tegaskan tidak ada oknum TNI yang terlibat sedikit pun dalam pencurian lembu di lahan saya. Jangan merusak citra TNI dengan informasi yang tidak benar,” ujar Jefrey. Ia menjelaskan, lokasi yang terlihat dalam video yang beredar merupakan jalan umum di depan mess kebun, bukan lokasi pengambilan lembu. “Pengambilan lembu dilakukan oleh anggota saya sendiri di dalam lahan kebun, bukan oleh oknum TNI. Saya mengimbau masyarakat tidak menyebarkan berita bohong,” katanya. Dalam kesempatan yang sama, Hanung juga menyoroti penanganan perkara pembunuhan dan penganiayaan di kawasan PT Agrinas yang dinilainya lebih mendesak untuk diselesaikan. Ia mengaku telah berkoordinasi dengan pihak kepolisian dan manajemen perusahaan agar fokus penanganan diarahkan terlebih dahulu pada penyelesaian perkara tersebut. “Saya sudah menyampaikan kepada Kapolres dan pihak Agrinas agar fokus terlebih dahulu pada penyelesaian kasus pembunuhan dan penganiayaan. Tidak elok jika perhatian kita terpecah pada persoalan lain ketika ada peristiwa yang jauh lebih besar,” ujarnya. Menurut Hanung, pihak perusahaan untuk sementara diminta menunda pelaporan perkara lain agar proses penyidikan terhadap kasus utama dan penanganan korban dapat berjalan lebih optimal. Selain itu, ia mengatakan jajaran Koramil telah diperintahkan membantu masyarakat terdampak, termasuk memperbaiki rumah warga yang mengalami kerusakan akibat peristiwa tersebut. “Fokus kami saat ini adalah membantu penyelesaian persoalan utama, mendampingi korban, serta memastikan situasi tetap kondusif. Kami juga terus berkomunikasi dengan keluarga korban terkait perkembangan penanganan perkara dan bantuan yang dapat diberikan,” kata Hanung.(Red)